Monday, February 9, 2009

Selamat Datang di Bener Meriah, Kota Megah Seribu Bukit


Bener Meriah yang beribukota Redelong, memiliki luas wilayah 1.454,09 km, dengan tofografi daerah yang berbukit-bukit. Daerah ini terletak di wilayah pedalaman Aceh, tepatnya di dataran tinggi Gayo. Kawasan ini bertemperatur antara 26 derajat Celsius dan 32,5 derajat Celsius.

Dengan curah hujan 1.000-2.500 mm, berkisar setiap tahunnya 143 s/d 178 hari, yakni terjadi sekitar September s/d Februari sementara musim kemarau terjadi pada Maret hingga Agustus.

Daerah yang dihuni penduduk sekitar 112.093 jiwa ini, memiliki kelembaban udara maksimum 75,8% sedangkan minimumnya 30%. Keanekaragaman budaya karena banyaknya suku bangsa yang secara bersama hidup di wilayah ini, menambah khazanah tersendiri.

Bener Meriah, didominasi oleh suku Gayo, sehingga di daerah ini masih tetap tegak budaya leluhur yakni adat Gayo, yang keberadaannya masih bertahan di daerah pemekaran Aceh Tengah ini.

Sebagai daerah seribu bukit, Bener Meriah acap dikunjungi wisatawan mancanegara. Karena di antara bukit- bukit yang menjulang tinggi, terdapat gunung api Burni Telong, yang memperkaya daerah ini dengan sumber air panas. Konon, air panas yang berada di kaki bukit Burni Telong ini dapat menyembuhkan penyakit kulit. Hal itu pula yang mengundang banyak masyarakat di luar daerah berkunjung sekalian berobat kulit.

Gunung api yang diprediksi masih aktif itu, letaknya tak jauh dari pusat Kota Redelong SP, hanya berjarak sekitar 2,5 km. Dari berbagai literatur yang didapat menyebutkan, Gunung Burni Telong pernah meletus pada beberapa puluh tahun yang silam. Masyarakat setempat khawatir dengan seringnya terjadi gempa bumi. Soalnya, gempa tersebut memicu pergesekan dalam perut bumi hingga retak sehingga menimbulkan letusan.

Namun kenyataan tersebut tidak terjadi. Gempa bumi dan gelombang dahsyat tsunami yang menerpa Aceh akhir Desember 2004, dilewatinya begitu saja, tak ada tanda-tanda terlihat bahwa gunung api itu akan meletus.

Kekayaan potensi alam Bener Meriah, membangkitkan pesona tersendiri bagi pengunjungnya. Hawa dingin yang terasa menusuk tulang, akan dirasakan bagi para pengunjung yang berlibur ke daerah ini. Belum lagi hempasan angin kala sore hari menjelang senja. Semua proses alam yang ada di wilayah ini, merupakan ciri khas tersendiri bagi daerah Bener Meriah.

Saksi Sejarah
Kilas balik dari sejarah kemerdekaan RI yang pada saat itu di ambang pintu keruntuhan. Pada saat penyerbuan agresi meliter Belanda ke dua, dari daerah inilah tepatnya wilayah rimba raya, melalui sebuah transmisi radio dipancarkan keseluruh pelosok dunia bahwa Indonesia masih ada, Indonesia masih merdeka. Kini Tugu Radio Rimba Raya, yang merupakan monumen nasional telah berdiri megah di daerah ini. Akan tetapi sayang tugu ini kurang terawat, bahkan bila kita berkunjung ke daerah ini, rasanya batin menjerit. Inikah suatu cara anak bangsa ini menghargai rute perjalanan sejarah bangsanya?

Terlepas dari hal tersebut, di gerbang pintu Bener Meriah tepatnya di Kampung Blang Rakal telah berdiri satu pondok pesantren modern sebagai pertanda bahwa daerah ini kuat akan agamanya. Banyak potensi daerah yang dijadikan objek wisata yang sifatnya masih alami, bahkan ada di antaranya belum disentuh oleh manusia.

Daerah penghasil kopi terbesar di Asia dan kedua di dunia ini, kini sedang bangkit dari keterpurukannya akibat diterpa konflik Aceh beberapa tahun yang silam. Kembalinya suasana damai, aman di negeri asal Gajah Putih (Sejarah Legenda Gayo - Red) telah membangkitkan semangat warga untuk membenahi diri, terutama memperbaiki kebun kopi mereka yang telah terlantar, serta sedang disibukkan dengan rehabilitasi maupun rekonstruksi sarana perumahan yang dulunya terbakar maupun dibakar.

Kembali ke potensi daerah. Selain kopi, di daerah inipun biasanya dibanjiri pula buah- buahan seperti durian, jeruk, avokad dan jenis buah lainnya. Khusus durian, di sepanjang pinggir jalan raya, tepatnya di Kampung Timang Gajah, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah, berjejer pondok-pondok kecil sebagai tempat untuk menikmati buah berduri itu. Musim panen durian di daerah ini diperkirakan Februari sampai dengan April mendatang. Dengan harapan masyarakat yang berlalu lalang di jalan tersebut dapat membeli durian yang masih segar dan baru jatuh dari pokoknya itu. Tidak sedikit petani tersebut meraih untung besar dari hasil panen mereka.

Selain menikmati buah durian, kita juga dapat menikmati hangatnya air panas di tempat pemandian Air Panas Simpang Balik. Di situ telah disediakan santapan jagung bakar pada sore harinya, sehingga usai mandi biasanya terasa lapar dan jagung inilah yang menjadi sasaran santapan pengganjal perut.

Potensi alam Bener Meriah hingga saat ini belum maksimal dimanfaatkan, terutama untuk tempat objek wisata. Karenanya sambil jalan-jalan, kami mengajak para investor dapat berkunjung dan melihat secara langsung keadaan wilayah ini. Masih banyak objek wisata yang bila dikelola akan mendatangkan rezeki.

Monumen RRR di Desa Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah, itu kini semakin kesepian di tengah rimba. Selain ditumbuhi ilalang dan bangunannya retak-retak, fasilitas penunjang seperti taman dan kolam kini sudah tidak ada bekasnya lagi.

Lubang menganga dan retak-retak kini terlihat di bangunan dasar yang mengitari tugu antena. Warga di sekitar monumen mengatakan, sejak tahun 1997 monumen itu tidak pernah dipelihara. "Kami sebenarnya baru saja kerja bakti membersihkan rumput. Sebelum dibersihkan, monumen ini sudah tidak kelihatan," kata Usman, warga setempat.

RRR merupakan siaran radio yang berhasil menyelamatkan Indonesia saat-saat berada di ambang kritis, ketika ibu kota Indonesia di Yogyakarta berhasil direbut Belanda, 19 Desember 1948. Saat itu, RRI yang biasa menyiarkan kemerdekaan Indonesia juga berhasil dikuasai Belanda.

Radio Belanda Hilversum saat itu menyiarkan berita Indonesia sudah hancur. Pada saat genting itu (20 Desember), RRR mengudara dari hutan menyatakan Indonesia masih ada.

Untuk mengumandangkan siaran RRR, tentara Indonesia dari Divisi Gajah X harus berjuang mati-matian dan bergerilya. Monumen yang terlihat sekarang dibangun tahun 1990, diresmikan Bustanil Arifin yang saat itu menjabat Menteri Koperasi.

Rahmat, warga Rimba Raya, mengatakan dirinya pernah mengajukan diri ke Pemkab Aceh Tengah untuk memelihara monumen. "Saya sudah mengajukan permohonan, semacam surat lamaran untuk bisa menjadi penjaga monumen ini, tetapi ditolak," katanya.

Selain monumen yang terbengkalai, sebuah truk tua yang pernah digunakan untuk mengangkut peralatan RRR, kini menjadi besi tua. Truk itu kini berada di rumah salah satu warga Bireuen.

Warga sekitar maupun warga Aceh Tengah tidak habis pikir mengapa pemerintah menelantarkan bukti sejarah penting tersebut. Jejak sejarah partisipasi Aceh dalam kemerdekaan Indonesia itu kini berangsur pudar.

Selama konflik, promosi wisata di sanan terkendala. Namun, bagaimanapun kondisinya, Aceh Tengah tak akan melewatkan event: pacuan kuda tradisional.

Saat event-event wisata terhenti di NAD, pacuan kuda tetap digelar pada setiap perayaan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus. Bahkan, pacuan kuda tetap meriah seolah tak terpengaruh situasi darurat militer. Dan inilah yang makin mengukuhkan Aceh Tengah " berbeda" dengan Aceh lainnya.

Rahman Global.

No comments:

Post a Comment